Please Wait . . .

ZQSCORE GOAL
Dark Mode
Top Leagues
09-Sep-2020, 12:01 pm

Mancini dan Revolusi Timnas Italia yang Berbuah Hasil


Mancini dan Revolusi Timnas Italia yang Berbuah Hasil

Beberapa tahun lalu, tim nasional (timnas) Italia mengalami momen kelam, armada Gli Azzurri gagal lolos ke Piala Dunia 2018 di Rusia. Publik Italia pun merasakan kekecewaan mendalam, salah satu negara terbesar di jagat lapangan hijau absen di ajang terelite, federasi sepak bola setempat (FIGC) lantas melakukan perubahan.

FIGC mengontrak Roberto Mancini sebagai pelatih. Sang allenatore membuang beberapa veteran, di antaranya kiper legendaris Juventus, Gianluigi Buffon. Dari segi permainan, Mancini benar-benar revolusioner, dengan cepat ia mengubah gaya Italia yang dulunya lebih pragmatis menuju ke sepak bola menyerang.

Ia meminta anak asuhnya berani menguasai bola bahkan mendorong para beknya menekan lawan dengan garis pertahanan tinggi. Kendati berisiko meninggalkan celah di lini belakang, Mancini tak ingin kembali ke Italia yang tradisional.

Hasilnya, tim tersebut melaju mulus selama kualifikasi Piala Eropa 2020. Leonardo Bonucci dkk meraih 100 persen kemenangan dalam 11 laga beruntun. Setelah sepak bola sempat terhenti lantaran pandemi Covid-19. Ada kekhawatiran Gli Azzurri bakal kehilangan ritme yang sudah terbangun.

Terbukti, pada Sabtu (5/9) dini hari WIB, catatan kemenangan beruntun Gli Azzurri terhenti. Para gladiator ditahan imbang Bosnia Herzegovina, 1-1, di Stadion Artemio Franchi. Kedua tim tergabung di Grup 1 Liga A UEFA Nations League 2020/2021.

Selanjutnya Italia menuju Belanda, pasukan Mancini membungkam De Orange, 1-0, di Johan Cryuff Arena, Amsterdam, Selasa (8/9) dini hari WIB. Italia pun meraih 12 kemenangan dalam 13 laga terakhir di berbagai kompetisi, sebuah catatan mentereng diukir skuat Gli Azzurri.

Terlihat revolusi Mancini terus menunjukkan taji, kegagalan ke Rusia menjadi pelecut tim menuju kebangkitan. Ada kombinasi antara beberapa senior dan para pemain muda. Dari 23 pemain yang terakhir dipanggil, 15 orang berusia di bawah 30 tahun. Mancini lebih berani menggunakan jasa jugador belia. Saat menghabisi Belanda, ia memberi debut untuk Manuel Locatelli.

Terlihat proyek Mancini berjalan di trek yang benar dan kini ia tinggal mempertahankan ritme yang sudah terbangun, sebab banyak agenda penting menunggu. Setelah mengukir catatan mentereng dari sisi rentetan kemenangan, Mancio kini membutuhkan trofi. Ada dua agenda di depan mata. Selain mengikuti UEFA Nations League, Italia bakal mentas di Piala Eropa 2021. (ZQ)


Source : zqscore.org

Recommended News :
`
image-top-scroll
`